
Dalam Injil, Yesus menceritakan kisah tentang sepuluh orang yang menderita penyakit kusta dan hanya satu yang kembali untuk mengucapkan syukur. Mereka semua telah disembuhkan oleh Yesus, tetapi hanya satu yang menyadari bahwa kesembuhan itu adalah anugerah dari Tuhan. Orang itu adalah seorang Samaria, yang tidak diharapkan oleh orang Yahudi untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan.
Kita seringkali seperti sembilan orang kusta lainnya, yang hanya fokus pada kesembuhan kita sendiri dan lupa untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Kita menerima anugerah-anugerah dari Tuhan, seperti kesehatan, keluarga, dan pekerjaan, tetapi kita lupa untuk mengucapkan syukur. Kita bahkan bisa menjadi seperti sembilan orang kusta itu, yang hanya meminta dan meminta, tetapi tidak pernah mengucapkan syukur.
Namun, Yesus ingin kita menjadi seperti orang Samaria itu, yang mengucapkan syukur dengan tulus dan rendah hati. Ketika kita mengucapkan syukur, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan. Kita menunjukkan bahwa kita percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik dan berkuasa.
Jadi ingat bahwa: Mengucapkan syukur adalah cara kita mengakui anugerah-anugerah Tuhan dalam hidup kita, dan dengan demikian kita menunjukkan bahwa kita percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik dan berkuasa.
Marilah berdoa:
“Ya Tuhan, kubersyukur atas berkat, penyertaan, serta nafas kehidupan yang masih boleh kuterima hingga saat ini. Sertailah aku selalu dalam perjalanan hidupku”