
Dalam Injil hari ini, Yesus memulai dengan kalimat yang sering disalahpahami: “Jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Kalimat ini bukan berarti kita tidak boleh membedakan benar dan salah. Yesus sendiri kemudian menjelaskan bahwa setelah “mengeluarkan balok dari matamu”, barulah kamu bisa “menolong mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu”. Jadi yang Yesus luruskan bukan soal menolong, melainkan urutan cara kita menolong.
Logika Yesus sangat masuk akal. Balok di mata melambangkan kondisi hati yang belum beres: prasangka buruk, luka yang belum sembuh, standar ganda yang dipakai untuk menilai, atau motivasi tersembunyi. Selama balok itu ada, cara kita melihat orang lain akan terhalang. Teguran yang kita sampaikan bukan lagi untuk memulihkan, melainkan untuk melampiaskan amarah. Sama seperti dokter tidak akan operasi dengan tangan kotor, begitu juga kita tidak bisa menolong orang dengan hati yang kotor.
Karena itu Yesus memberi urutan yang jelas. Langkah pertama adalah beres dengan diri sendiri di hadapan Tuhan. Akui kelemahan, minta Dia menanggalkan balok itu. Proses ini memang tidak nyaman, karena menuntut kerendahan hati. Tetapi hanya hati yang sudah dibersihkan yang sanggup melihat sesama dengan objektif dan penuh kasih.
Langkah kedua barulah menolong sesama. Setelah penglihatan kita jernih, kita bisa melihat “selumbar” pada orang lain tanpa menghakimi. Tujuan kita bukan menjatuhkan, tetapi mengangkat. Bukan mempermalukan, tetapi memulihkan. Itulah beda antara menghakimi dan menolong.
Jadi mari kita berhenti sejenak sebelum memberi komentar atau teguran. Tanyakan pada diri: hatiku sudah beres belum? Motivasiku kasih atau kesal? Dengan urutan yang benar, lingkungan kita akan menjadi tempat saling membangun, bukan saling menghukum.
Marilah Berdoa:
“Ya Tuhan selidikilah hatiku, agar aku dapat memandang sesama dengan kaca mata kasih”
Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.