Renungan pagi. Api Injil🔥
Pesta St. Laurensius Diakon dan Martir.
2 Korintus. 9:6-10.
Yohanes. 12:24-26.
Saudara-saudariku yang terkasih, ada sebuah ungkapan klasik mengatakan demikian, “mati satu tumbuh seribu”. Sebuah ungkapan yang hendak menegaskan makna kematian yang tak selalu berarti penghabisan, tetapi juga bermakna harapan. Dari kematian yang penuh makna, akan lahir harapan-harapan yang baru. Hal yang sama juga diungkapkan dalam Injil hari ini, biji yang mati dan jatuh ke tanah, kelak akan tumbuh dan menghasilkan buah yang lebih banyak lagi.
Saudara-saudariku terkasih, pada hari ini, Gereja Universal merayakan Pesta Santo Laurensius, seorang diakon dan Martir. Ia mati demi mempertahankan imannya akan Yesus Kristus. Dengan kesaksian dan kematiannya itu, iman akan Yesus Kristus tak lekas dimusnahkan. Justru sebaliknya, kematian dan darah sang Martir menyuburkan iman akan Kristus. Santo Laurensius sudah meninggal beberapa abad yang lalu, namun ia tidak pernah mati karena kesaksian hidupnya telah menghasilkan buah berlimpah bagi gereja.
Saudara-saudariku yang terkasih, panggilan menjadi Martir Kristus masih bergema bagi para pengikut Kristus zaman ini. Kemartiran yang tak selalu berarti menyerahkan diri dan mati. Hal yang lebih mendesak adalah kesaksian hidup yang nyata dalam tutur kata dan tindakan. Hidup para pengikut Kristus harus menampakkan imannya akan Yesus Kristus, sang penyelamat. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Doa: Ya Tuhan Allahku, jadikanlah aku sebagai saksi-Mu di tengah-tengah masyarakat dan gereja. Mampukanlah aku menjadi pengikut-Mu yang setia bagi orang lain. Amin.

Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.