
Yesus berkata: “Kamu telah mendengar: Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu.” Lalu Dia membalikkan semuanya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Hukum dunia berhenti pada “kasihilah teman”. Hukum Kristus naik satu tingkat lagi: “kasihilah juga lawan”.
Bapa di surga menurunkan hujan untuk orang baik dan orang jahat. Matahari terbit untuk orang benar dan orang curang. Kasih-Nya tidak menghitung siapa yang layak.
Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, itu biasa saja. Penjahat pun melakukannya. Jika kita hanya menyapa kawan, itu lumrah. Yang membedakan murid Kristus adalah kemampuannya mengasihi yang sulit dikasihi.
Mengasihi musuh bukan berarti menyukai perbuatannya. Berdoa bagi yang menganiaya bukan berarti membenarkan lukanya. Mengasihi berarti menolak membiarkan kebencian merusak hati kita sendiri. Mengasihi berarti memilih tetap menjadi anak Bapa, walau diperlakukan tidak pantas.
Yesus menutup dengan kalimat yang menuntut: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Sempurna di sini artinya utuh, tidak terbelah. Kasihnya sampai ke semua orang, tanpa kecuali.
Pasti ada nama yang sulit disebut dalam doa. Ada orang yang lebih mudah dijauhi daripada didoakan.
Injil ini mengajak kita untuk menyebut namanya dalam doa. Minta berkat untuk dia. Karena setiap kali kita berdoa bagi musuh, hati kita sendiri yang disembuhkan lebih dulu. Itulah kesempurnaan yang Tuhan mau. Kasih yang tidak memilih-milih.
Marilah Berdoa:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.