
Masakan tanpa garam terasa hambar. Ruangan tanpa lampu terasa gelap. Garam yang sedikit mampu mengubah rasa. Terang yang kecil sanggup menerangi dalam kegelapan. Itulah gambaran diri kita di mata Yesus.
Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia.”Â
Sebagai garam, kita dipanggil memberi rasa lewat kejujuran, kesetiaan, dan kasih di tengah dunia yang hambar oleh kebencian. Kita juga menjaga agar nilai iman tidak rusak oleh zaman. Namun Yesus mengingatkan, garam yang tawar tidak berguna. Iman yang tidak dihidupi kehilangan daya.Â
Sebagai terang, tugas kita bukan mencari pujian, melainkan agar orang melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa di surga. Terang tidak bersuara, tetapi kehadirannya nyata. Menjadi garam dan terang adalah identitas, bukan pilihan.
Hiduplah supaya orang lain melihat Tuhan melalui kita.* Bukan dengan banyaknya kata-kata baik, tetapi lewat satu tindakan kasih yang tulus setiap hari di rumah, dilingkungan gereja dan di lingkungan masyarakat. Biarlah terang kecil itu menuntun orang untuk memuliakan Bapa di surga.
Dunia tidak butuh orang Kristen yang diam. Dunia butuh garam yang asin dan terang yang menyala.
Marilah Berdoa:
“Ya Allah, curahkanlah Roh-Mu agar aku mampu menjadi garam dan terang bagi sesama”
Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.