
Injil hari ini mengisahkan seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Ia sujud dan berkata, “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Kalimat ini memuat iman sekaligus penyerahan. Ia percaya Yesus sanggup, tetapi tidak memaksa. Keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada Yesus.
Lalu Yesus melakukan dua hal. Pertama, Ia mengulurkan tangan dan menyentuh orang itu. Kedua, Ia berkata, “Aku mau. Jadilah engkau tahir.” Seketika penyakit itu hilang.
Perlu kita ketahui bahwa pada masa itu, orang kusta harus hidup terpisah. Mereka tidak boleh bersentuhan dengan siapa pun. Menyentuh mereka berarti dianggap najis. Tetapi Yesus justru mendekat. Ia tidak menjaga jarak. Ia menyentuh terlebih dahulu, baru kemudian menyembuhkan. Seolah-olah Ia ingin berkata, “Engkau tidak sendirian. Engkau berharga di bagi-Ku.”
Dalam hidup, memang kita tidak pernah mengalami kusta secara fisik. Namun kita pernah merasakan hal yang mirip: rasa gagal, rasa malu, luka yang disembunyikan. Ada kalanya kita berpikir Tuhan pasti sudah lelah melihat hidup kita yang berulang dalam kesalahan yang sama.
Tetapi Injil hari ini memberi jawaban berbeda. Yesus tidak menjauh. Ia mendekat. Ia mau. Ia sanggup. Yang Ia minta hanya iman yang jujur, seperti orang kusta tadi: “Tuhan, jika Engkau mau.”
Karena itu, mari kita datang kepada-Nya apa adanya. Tidak perlu menunggu hidup menjadi suci terlebih dahulu. Tidak perlu memakai topeng seolah-olah kuat. Cukup datang dengan jujur dan tulus, lalu percaya bahwa Dia sanggup memulihkan. Sebab sampai hari ini, sentuhan-Nya tidak pernah berubah. Ia tetap mendekat, menyembuhkan, dan mengembalikan martabat kita sebagai anak-Nya.
Marilah Bedoa:
“Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku”
Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.