Renungan Harian. Api Injil🔥
Hari biasa, Pekan XVIII
Nahum 1:15, 2:2, 3:1-3, 6-7.
Matius 16: 24-28.
Saudara-saudari terkasih, Kalau ditanya, siapa yang mau memikul salib? Mungkin kebanyakan dari kita akan menjawab, “Tidak ada yang mau!” Kita lebih suka memikul tas yang berisi uang daripada memikul salib yang berisi penderitaan. Namun justru hari ini Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
Dalam bacaan pertama, Nabi Nahum mengisahkan kehancuran kota Niniwe. Kota yang dahulu besar dan kuat itu akhirnya jatuh karena kesombongan, kekerasan, dan ketidakadilannya. Niniwe mengandalkan kekuatan duniawi, tetapi melupakan Tuhan. Akibatnya, kemegahan yang dibanggakan itu tidak bertahan lama.
Sebaliknya, Yesus dalam Injil menunjukkan jalan yang berbeda. Bukan jalan kesombongan, melainkan jalan kerendahan hati. Bukan jalan mencari diri sendiri, melainkan jalan pengorbanan. Yesus bahkan mengatakan bahwa siapa yang mau menyelamatkan hidupnya akan kehilangan hidupnya, tetapi siapa yang kehilangan hidupnya karena Dia akan memperolehnya.
Saudara-saudariku yang terkasih, Sering kali salib yang kita pikul bukanlah kayu yang berat, melainkan masalah keluarga, sakit penyakit, kegagalan, kekecewaan, atau tugas pelayanan yang terasa melelahkan. Kita kadang bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Namun Yesus tidak pernah menjanjikan hidup tanpa salib. Ia menjanjikan bahwa Dia akan berjalan bersama kita dalam memikul salib itu.
Jumat Pertama mengingatkan kita akan kasih Hati Yesus yang begitu besar. Hati yang rela terluka demi menyelamatkan manusia. Karena itu, ketika kita menghadapi kesulitan, jangan lari dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya. Letakkan beban kita di dalam Hati-Nya yang penuh kasih. Salib yang dipikul bersama Yesus tidak akan menghancurkan kita, tetapi justru memurnikan dan menguatkan kita.
Maka marilah kita belajar untuk setia mengikuti Kristus setiap hari. Jangan mengejar kemuliaan dunia yang sementara seperti Niniwe, tetapi kejarlah kemuliaan yang berasal dari Tuhan. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita miliki yang akan dinilai Tuhan, melainkan seberapa setia kita mengasihi dan mengikuti-Nya.
Semoga pada Jumat Pertama ini, kita semakin berani memikul salib bersama Yesus dan menemukan sukacita sejati dalam mengikuti-Nya. Amin.
Doa singkat: Tuhan Yesus yang Mahakudus, pada Jumat Pertama ini kami datang kepada-Mu dengan segala kelemahan dan beban hidup kami. Ajarlah kami untuk setia memikul salib dan mengikuti-Mu dengan penuh kasih. Kuatkan kami dalam pencobaan, teguhkan kami dalam pelayanan, dan penuhilah hati kami dengan damai-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.