Renungan Harian. Api Injil🔥
Hari Selasa. Pw S. P. Maria Berdukacita.
Ibrani. 5:7-9.
Yohanes. 19:25-27.
Penderitaan acap kali digunakan sebagai alasan mengapa manusia mengeluh kepada Tuhan. Iman manusia pun mudah digoyahkan di hadapan pengalaman buruk. Apalagi jika hal itu dialami oleh orang-orang baik. Pengkhotbah mengatakan, “ada orang-orang benar yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.” Dalam hidup Maria, kita menemukan kebenaran kata-kata Pengkhotbah di atas. Ia orang benar yang mengalami penderitaan.
saudara-saudariku yang terkasih, hari ini, gereja memperingati Maria yang berdukacita. Ketika Simeon bernubuat tentang Yesus, ia mengatakan kepada Maria; “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Namun, Maria tak mengeluh. Ia tak mengelak dari rancangan Allah, selain penyerahan diri, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Di kaki salib, Maria menyaksikan kematian PutraNya. Lagi-lagi, ia tak menyangkal atau mengutuk Tuhan. Maria mampu bersukacita dalam penderitaannya, sebab ia memiliki relasi personal dengan Tuhan. Ia percaya pada Tuhan yang tak meninggalkan.
Maria tak meminta, “lepaskanlah aku dari penderitaan.” Yang diucap dari mulut Maria hanya kata-kata Magnificat, ‘jiwaku memuliakan Tuhan,” Dan sebuah penyerahan diri pada kehendak Allah, “terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.
Saudara-saudariku yang terkasih, setiap dari kita pasti memiliki salib atau penderitaan yang ditanggung. Salib berupa penyakit yang mendera, atau rasa sakit karena beban kehidupan yang terasa berat. Kita mudahengeluh dan menyerah, meskipun keluhan dan keputusasaan tak membebaskan kita dari penderitaan.
kita mudah ragu, seakan Tuhan berdiam diri dalam setiap penderitaan. Bunda Maria mengajarkan kita, dukacita dalam kehidupan tak lekas membuat kita putus asa dan kehilangan keyakinan pada kasih Tuhan.
dalam setiap pengalaman buruk dan menyedihkan dalam hidup, kita mungkin perlu bersikap pasrah penuh harap seperti Maria. “kita ini adalah hamba Tuhan, terjadilah seperti kehendak-Nya.” Dengan iman yang sungguh, bukan dalam penderitaan, kita pun dapat mengalami berapa Tuhan itu baik. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Doa: Ya Tuhan, semoga dalam setiap pengalaman buruk dan penderitaan dalam hidup, aku boleh mengalami dan menyelami berapa baiknya Engkau bagiku. Amin.

Paroki Santo Yoseph Buli adalah pusat pelayanan Katolik di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Amboina. Paroki ini tumbuh dari stasi kecil di wilayah Maba, melayani umat Katolik di wilayah Buli dan sekitarnya, serta didedikasikan kepada Santo Yosef.